Senin, 18 April 2011

makalah lomba paud


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1        Latar Belakang Masalah

Dunia anak adalah dunia bermain, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali yang ada dalam fikiran anak adalah bermain. Maka wajar apabila bermain merupakan salah satu prinsip dasar dalam pendidikan anak usia dini. Melalui bermain anak akan belajar berbagai hal, antara lain anak akan belajar mengenal lingkungan di sekitarnya, belajar dalam menguasai beberapa keterampilan hidup seperti keterampilan berbahasa, bersosialisasi, dan lainnya.
Begitu pentingnya kegiatan bermain dalam kehidupan anak, sehingga kegiatan bermain harus menjadi sebuah proses agar anak mendapatkan pengalaman hidup. Orang tua atau guru harus memfasilitasi kegiatan bermain agar mampu memaksimalkan perkembangan dan pertumbuhan anak. Melalui kegiatan bermain maka kreatifitas anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Piaget, seorang ahli pendidikan, berp
endapat bahwa bermain adalah kegiatan yang sangat penting dalam proses belajar anak, melalui bermain anak akan didorong untuk bereksperimen dan tumbuh dengan baik dalam kehidupannya (Marlan E Borden, 2001:37).
Dalam perkembangan saat ini, kegiatan bermain anak dapat difasilitasi dengan berbagai jenis media dan jenis permainan. Untuk mengklasifikasikan jenis permainan anak, setidaknya dapat ditelaah dari media da asal permainan tersebut. Bermain dengan media sederhana dan merupakan produk local biasanya digolongkan dalam jenis permainan tradisional. Sedangkan bermain dengan media mesin, modern, dan biasanya berasal dari luar digolongkan sebagai jenis permainan modern. Dalam khasanah masyarakat kita mengenal permainan tardisional seperti congklak, petak umpet, gasing, mobil-mobilan dari kulit jeruk, eggrang, dan sebagainya. Sedangkan permainan anak yang tergolong modern modern kita mengenai mobil-mobilan bermesin, Play Station (PS), monopoli, dan lainnya.
Sesungguhnya, semua jenis permainan baik untuk perkembangan anak. Hal itu apabila permainan tersebut dilakukan dengan pengelolaan yang baik dan diarahkan untuk tujuan-tujuan positif. Namun, permainan tradisional dianggap lebih mampu menjadi media pembelajaran yang sesuai bagi anak sehingga tujuan pendidikan anak  tercapai, khususnya dalam menumbuhkan kreatifitas, daya imajinasi, dan proses sosialisasi dalam diri anak. Hal itu disebabkan karena permainan anak tradisional tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat secara alamiah, sedangkan permainan anak modern biasanya dikembangkan dengan tujuan-tujuan yang cenderung komersil. Selain itu, jenis permainan anak tradisional tidak mengandung dampak negative, baik pengaruh radiasi metal dan listrik maupun unsur kecanduan yang sering terjadi dalam permainan-permainan modern.
Dalam masyarakat sunda, banyak ragam jenis dan bentuk permainan anak yang berkembang seiring dengan budaya dan kearifan lokalnya. Kebudayaan sunda sebagai jati diri masyarakat sunda dikembangkan melalui berbagai aspek kehidupan yang dijadikan dasar dalam membangun karakter masyarakatnya. Dalam hal ini, Kabupaten Sumedang sebagai salah satu pusat kebudayaan sunda, melalui Peraturan Bupati (Perbup) Sumedang Nomor 113 tahun 2009 telah menetapkan Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda (SPBS). Melalui Perbup tersebut diharapkan kebudayaan Sunda berkembang dan menjadi pendorong pembangunan karakter masyarakat Sumedang yang Sejahtera, Agamis, dan Demokratis (Sumedang SEHATI). Melalui pembangunan berbasis budaya diharapkan akan terjadi penguatan harkat dan martabat manusia dalam proses pembangunan.
Berdasarkan pemikiran di atas makalah ini disusun sebagai upaya membangun karakter anak yang kreatif, inovatif dan imajinatif sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhannya. Melalui penggunaan berbagai bentuk permainan tradisional, baik dalam bentuk gerak maupun bernyayi diharapkan pembelajaran pada anak usia dini dapat mencapai tujuannya.

1.2     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka berikut ini rumusan masalah yang akan dikaji dalam makalah ini, yaitu:
1.      Apakah penggunaan berbagai bentuk permainan anak tradisional (kaulinan barudak) dapat meningkatkan aktivitas belajar anak?
2.      Bagaimana permainan anak tradisional tersebut dapat diimplementasikan dalam pembelajaran anak?

1.3     Tujuan Penulisan
Tujuan penyusunan makalah yang yang bertema tentang penerapan pemainan anak tradisional dalam meningkatkan kreatifitas anak usia dini adalah:
1.      Mengetahui pentingnya penerapan permainan anak tradisional dalam meningkatkan minat belajar anak usia dini.
2.      Mengkaji implementasi permainan anak tradisional dalam proses pembelajaran anak usia dini.

1.4        Metode dan Teknik Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode deskriptif analitik, yakni dengan mengungkapkan masalah-masalah yang dikaji dan kemudian dianalisis berdasarkan teori-teori yang ada  dan pengetahuan penulis.
Adapun teknik penulisan yang digunakan adalah kajian kepustakaan terhadap berbagai literatur serta hasil observasi yang dilakukan selama pembelajaran anak usia dini di lembaga PAUD yang dikelola penulis.
1.5        Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab I   Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, rumusan dan tujuan
Penulisan, metode dan teknik penulisan serta sistematika penulisan.
Bab II  Landasan teori, yang menguraikan konsep-konsep dasar dari variable yang dibahas.
Bab III            Pembahasan, berisi materi kajian yaitu penerapan permaianan anak tradisional
             Dalam pembelajaran anak usia dini.
Bab IV Penutup, berisi kesimpulan dan saran.


















BAB II
LANDASAN TEORI

2.1     Pengertian Bermain
Menurut Solehuddin (1997:77) bermain dapat dipandang sebagai suatu kegiatan yang bersifat volunteer, spontan, terfokus pada proses, memberi ganjaran secara instrinsik, menyenangkan, aktif dan fleksibel. Semakin kuat ciri-ciri termuncul dalam sebuah kegiatan maka semakin jelaslah bahwa kegiatan tersebut adalah kegiatan bermain.
Hal yang tidak dipungkiri bahwa bermain merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan pada kehidupan anak. Bermain merupakan aktivitas utama anak ketika ia dalam keadaan terjaga, sebab melalui bermainlah anak belajar berbagai hal, memahami kehidupan dan mengumpulan informasi mengenai sesuatu. Sehingga dalam pendidikan anak, bermain merupakan alat belajar utama dalam mencapai tujuan pendidikan anak. Selain itu, bermain mempunyai multi fungsi dalam perkembangan dan pertumbuhan anak. Dalam hal ini Solehuddin (1997:79)  menyatakan bahwa:
Bermain memungkinkan anak untuk membangun pengetahuan baru, mengembangkan keterampilan social, mengembangkan kecakapan untuk mengatasi kesulitan, mengembangkan rasa memiliki kemampuan, dan dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan motoriknya.
           
            Oleh karena itu, salah satu prinsip dasar dalam pendidikan anak usia dini adalah belajar sambil bermain. Dalam hal ini, guru dituntu untuk kreatif dalam memanfaatkan seluruh media bermain dalam proses pembelajaran. Selain media-media berupa benda-benda, guru harus pula kreatif dalam menggali berbagai jenis media bermain lainnya, seperti jenis-jenis permainan tradisional yang banyak berkembang dalam masyarakat kita, yang konsep-konsep permainannya bermanfaat dalam pendidikan anak usia dini.



2.2 Bermain dengan Permainan Anak Tradisional

Permainan merupakan sebuah aktivitas rekreasi dengan tujuan bersenang-senang, mengisi waktu luang, atau berolahraga ringan. Permainan biasanya dilakukan sendiri atau bersama-sama (kelompok). Dalam masyarakat yang masih menjunjung prinsip kekeluargaan dan keakraban antar anggota masyarakat banyak permainan yang dilakukan oleh anak-anak secara beramai-ramai dengan teman-teman mereka di halaman atau di teras rumah. Mereka berkelompok, berlarian, atau duduk melingkar memainkan salah satu permainan dan tercipta keakraban. Beberapa permainan ini karena tercipta di masa yang lama berlalu disebut dengan permainan tradisional, sedangkan di sisi lain beberapa permainan yang lebih akhir (dan biasanya menggunakan peralatan yang canggih) disebut permainan modern.
Permainan tradisional mempunyai prinsip-prinsip yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan anak usia dini, antara lain :
1.            Menumbuhkan kreatifitas, hal itu ditandai dengan media permainan yang sebagian besar harus diciptakan sendiri dan jarang dijual, contohnya pepelotakan, sejenis pistol dari bamboo dengan peluru kertas atau eggrang yang juga terbuat dari bambu.
2.            Mendorong anak untuk bersosialisasi, hal itu disebabkan permainan tradisional merupakan permainan dengan banyak peserta.
3.            Meningkatkan kecerdasan emosional dan intelektual, banyak permainan yang menuntut kesabaran dan daya nalar anak.
Dalam hal ini setidaknya terdapat 10 manfaat permainan tradisional seperti yang dikutip dari sumber http:/www.asianbrain.com adalah sebagai berikut:

1.  Anak menjadi lebih kreatif
Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para pemainnya. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan.
Selain itu, permainan tradisioanal tidak memiliki aturan secara tertulis. Biasanya, aturan yang berlaku, selain aturan yang sudah umum digunakan, ditambah dengan aturan yang disesuaikan dengan kesepakatan para pemain. Di sini juga terlihat bahwa para pemain dituntut untuk kreatif menciptakan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan mereka.
2. Dapat digunakan sebagai terapi terhadap anak
Saat bermain, anak-anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa, dan bergerak. Kegiatan semacam ini bisa digunakan sebagai terapi untuk anak-anak yang memerlukannya kondisi tersebut.
3.   Mengembangkan kecerdasan intelektual anak
Permainan tradisional seperti permainan Oray-Orayan mampu membantu anak untuk mengembangkan kecerdasan intelektualnya. Sebab, permainan tersebut akan menggali wawasan anak terhadap beragam pengetahuan.
4.   Mengembangkan kecerdasan emosi dan antar personal anak
Hampir semua permainan tradisional dilakukan secara berkelompok. Dengan berkelompok anak akan: mengasah emosinya sehingga timbul toleransi dan empati terhadap orang lain, contoh permainannya adalah kasti dan anjang-anjangan
5.   Mengembangkan kecerdasan logika anak
Beberapa permainan tradisional melatih anak untuk berhitung dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya, misalnya: engklek, congkak, dam Daman, spintrong dan bola bekel.
6.  Mengembangkan kecerdasan kinestetik anak
Pada umumnya, permainan tradisional mendorong para pemainnya untuk bergerak, seperti melompat, berlari, menari, berputar, dan gerakan-gerakan lainnya. Contoh permainannya adalah: Spintrong, Sorodot Gaplok, dan Enggrang

7.      Mengembangkan kecerdasan natural anak
Banyak alat-alat permainan yang dibuat/digunakan dari tumbuhan, tanah, genting, batu, atau pasir. Aktivitas tersebut mendekatkan anak terhadap alam sekitarnya sehingga anak lebih menyatu terhadap alam. Contoh permainannya adalah: Anjang-Anjangan/dadagangan dengan membuat minyak dari daun bunga sepatu, mie baso terbuat dari tumbuhan parasit berwarna kuning yang bisanya tumbuh di tumbuhan anak nakal, Mobil-mobilan terbuat dari kulit jeruk bali
8.      Mengembangkan kecerdasan spasial anak
Bermain peran dapat ditemukan dalam permainan tradisional Anjang-Anjangan. Permainan itu mendorong anak untuk mengenal konsep ruang dan berganti peran (teatrikal).
9.      Mengembangkan kecerdasan musikal anak
Nyanyian atau bunyi-bunyian sangat akrab pada permainan tradisional. Permainan-permainan yang dilakukan sambil bernyanyi di antaranya: Ucang-Ucang Angge, paciwit-ciwit lutung, dan Oray-Orayan
10.     Mengembangkan kecerdasan spiritual anak
Dalam permainan tradisional mengenal konsep menang dan kalah. Namun menang dan kalah ini tidak menjadikan para pemainnya bertengkar atau minder. Bahkan ada kecenderungan, orang yang sudah bisa melakukan permainan mengajarkan tidak secara langsung kepada teman-temannya yang belum bisa.










BAB III
MENERAPKAN PERMAINAN ANAK TRADISIONAL
DALAM KEGIATAN  PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI

Dalam bagian ini akan diuraikan langkah-langkah menerapkan permainan anak tardisional dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini. Permainan (dalam bahasa sunda: kaulinan) anak tradisional yang akan diterapkan adalah permainan oray-orayan (ular-ularan), sebuah bentuk permainan anak tradisional yang berkembang hampir di seluruh Nusantara, walaupun dengan nama-nama yang berbeda, antara lain  sleboran (Gresik), dor salindor (Madura), wak-wak gong (Jakarta), tam-tam (Sumatera Selatan), lemon nipis (Irian Jaya), dan teng bukuk (Sumatera Selatan).

3.1    Permainan Oray-orayan
            Dalam tradisi Sunda, permainan ini lazim dilakukan oleh anak-anak ketika mereka sedang bermain. Permainan oray-orayan  merupakan permainan yang cukup dinamis, menggabungkan aspek gerakan dan menyanyi, sehingga sangat disukai oleh anak-anak. Adapun syair nyanyian permainan oray-orayan adalah sebagai berikut:
1.      Oray-orayan, luar leor mapay sawah
Tong ka sawah, di sawah keur seudeung beukah
2.      Oray-orayan, luar leor mapay kebon
Tong ka kebon, di kebon loba nu ngangon
Oray –orayan luar leor mapay leuwi
Tong kaleuwi di leuwi loba nu mandi
3.      Mending ge teuleum, di leuwi loba nu mandi
Saha anu mandi, anu mandina pandeuri
Oray-orayan oray naon oray bungka
Bungka naon bungka laut laut naon
Laut dipa dipa naon dipandeuri
Ri ri ri ri ri ri
               ORAY BUNGKA
Oray bungka keur lapar taya hakaneun
Luar leor pasamon pikagilaeun
Matana curinghak sungutna calawak
Nembongkeun gugusi rek nyaplok nu tipandeuri

Luar-leor hulu rek ngahakan buntut
Kupat-kepot sang buntut sieun karebut
Hulu rek ngorontok, buntut lumpat kagok
Buntut kabeunangan sorakna aeuh-aeuhan

Sambil bernyanyi, semua anak saling memegang pundak secara berurutan menyerupai ular mereka meliuk-liuk mengikuti irama nyanyian, dan setelah ada tanda tertentu, anak yang depan yang diibaratkan kepalanya harus menangkap anak yang paling belakang yang diibaratkan ekornya.
            Dikaji dari aspek pembelajaran anak usia dini manfaat permainan oray-orayan antara lain:
-          Mengembangkan kecerdasan intelektual anak
Permainan Oray-Orayan mampu membantu anak untuk mengembangkan kecerdasan  
intelektualnya. Sebab, permainan tersebut akan menggali wawasan anak terhadap beragam pengetahuan mengenai binatang dan pertanian.
-          Mengembangkan kecerdasan emosi dan antar personal anak
Permainan oray-orayan dilakukan secara berkelompok sehingga anak akan mengasah emosinya sehingga timbul toleransi dan empati terhadap orang lain.
-          Mengembangkan kecerdasan kinestetik anak
Permainan oray-orayan mendorong para pemainnya untuk bergerak maju mengikuti gerakan orang di depannya, hal itu mendidik anak untuk antri dan tidak berebut ke depan.
-          Mengembangkan kecerdasan spasial anak
Bermain peran dapat ditemukan dalam permainan tradisional oray-orayan. Permainan itu mendorong anak untuk mengenal konsep ruang dan berganti peran (teatrikal). Konsep ruang seperti sawah, kebun, leuwi (air terjun/sungai) dan lainnya.
-          Mengembangkan kecerdasan musikal anak
Gerak dan nyanyian atau bunyi-bunyian merupakan ciri khas permainan tradisional. Seperti halnya permainan oray-orayan dilakukan sambil bernyanyi dan bergerak.
-          Mengembangkan kecerdasan spiritual anak
Permainan oray-orayan mengembangkan kesabaran dan kepatuhan terhadap kesepakatan bersama.

3.2  Rencana Pembelajaran
            Permainan oray-orayan di atas merupakan media dalam mengantarkan materi pembelajaran yang akan dilaksanakan. Berikut adalah salah salah satu contoh penerapan permainan oray-orayan dalam pembelajaran anak usia dini seperti yang tertuang dalam rencana kegiatan pembelajaran sebagaimana ada dalam lampiran makalah ini.

 

3.3   Hasil dan Pembahasan
Dari hasil pengamatan selama melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan permainan anak tradisional “oray-orayan” dapat diperoleh hasil-hasil seperti berikut:
1.         Pada awalnya ada beberapa anak yang belum memahami permainan ini, namun  setelah dijelaskan dan mereka diminta mengikuti gerakan dan nyayian teman-temannya yang lain, seluruh anak mengikuti permainan oray-orayan dengan senang. Peran guru dalam memfasilitasi kegiatan ini masih sangat diperlukan, sebab anak usia 4-5 tahun masih memerlukan bimbingan dalam memahami sebuah permainan anak.
2.         Sebagai media dalam mengantar anak ke pengembangan materi selanjutnya, permainan oray-orayan cukup menarik minat anak untuk bermain dan belajar. Setelah permainan oray-orayan ada beberapa anak yang bertanya atau mengemukakan pendapatnya mengenai binatang ular.
3.         Anak bermain dengan lepas dan senang.
4.         Dalam proses pembelajaran berikutnya, anak lebih tertarik, misalnya ketika mereka diharuskan membuat ular-ularan dari sedotan, anak kelihatannya lebih antusias.
Dari hasil observasi selama pembelajaran seperti diuraikan di atas, permainan anak tradisional seperti halnya permainan oray-orayan sangat besar manfaatnya dala mengembangkan berbagai kecakapan anak, baik dalam aspek motorik, kognitif, dan afektif. Selain itu permainan ini juga ikut mengembangkan kecerdasan emosional dan social, di mana melalui permainan secara berkelompok anak didorong untuk saling berbagi, menghargai pendapat orang lain, dan menjunjung tinggi perbedaan.










BAB IV
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Berikut ini kami uraikan hasil kesimpulan makalah ini, yaitu:
3.1.1        Bermain merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari dunia anak, sehingga dalam pendidikan anak usia dini, kegiatan bermain harus merupakan prinsip dasar yang menyatu dalam kegiatan belajar.
3.1.2        Kegiatan bermain dapat dilakukan dengan memanfaatkan permainan anak tardisional yang disesuaikan dengan rencana pembelajaran yang telah disiapkan. Permainan anak tradisional mempunyai manfaat yang besar, antara lain: 1) mengembangkan berbagai aspek kecerdasan anak, serta mengenalkan anak pada tradisi dan budaya masyarakatnya.
3.1.3        Dalam implementasinya, pemanfaatan permainan anak tradisional dalam proses pembelajaran anak usia dini meningkatkan minat anak dalam mengikuti pembelajaran yang telah dirancang.

3.2  Saran
Setelah mengkaji berbagai hal di atas, maka penulis menyarankan agar dikembangkan berbagai jenis permainan tardisional yang secara terpadu diterapkan dalam proses pembelajaran anak usia dini.





DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2007. Undang-undang No.20 Tahun 2009 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Depdiknas:Jakarta.
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Depdiknas. 2007. Kerangka Dasar Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Negeri Jakarta: Jakarta.
Marian E Borden. 2001. SMART STRART, Panduan Lengkap Memilih Pendidikan Prasekolah Balita Anda. Kaifa:Bandung
M. Hariwijaya dan Bertiani Eka Sukaca. 2007. PAUD Melejitkan Potensi Anak dengan Pendidikan Sejak Dini. Bandung
M. Solehuddin, 1997. Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah. IKIP Bandung:Bandung.
__________. 2009. Filosofi dan Teori yang Mendasari Pendidikan Anak Usia Dini, Modul 5. Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang.

Sumber internet :
http:/www.asianbrain.com
www.lintas berita.com
http://af-zafacabook.com












Lampiran

Rencana Kegiatan Pembelajaran Harian


Hari tanggal                     :  Senin,
Anak Usia                        :  4-5 tahun
Sentra                              :  Seni
Tema                                :  Binatang
Isi materi                          :  Binata berkaki empat
Waktu                              :  08.00 – 10.00 WIB

A.    Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan bermain anam mampu :

  1. Berdo’a sebelum dan sesudah melakukan kegiatan
  2. Bergerak dengan berbagai variasi
  3. Membedakan berbagai jenis suara
  4. Mengelompokan benda yang sama dan sejenis
  5. Sabar menunggu giliran dan terbiasa antri
  6. Menggerakan tubuh mengikuti irama.

B.     Konsep pengetahuan /metode pembelajaran

  1. Berdo’a sebelum dan sesudah belajar
  2. Menirukan jalannya binatang
  3. Meenirukan suara binatang
  4. Mengelompokan berdasarkan bentuk,  warna dan ukuran yang sama
  5. Tertib dalam bermain dan sabar
  6. Bergerak sesuai irama

C.    Kegiatan Belajar

1.      Pijakan lingkungan

·         Menyiapkan kegiatan main di sentra persiapan yang terdiri dari :
·         Menyiapkan bahan dan alat main untuk mengelompokan
·         Menyiapkan bahan dan alat main yang terdiri atas kertas bergamb ar kelinci, lem kapas putih,kancing berwarna merah.


2.      Kegiatan Pembukaan di luar

·         Anak diajak bernyanyi dengan gerakan menirukan suara dan jalannya binatang

·         Anak disuruh antri mencuci tangan ke toilet atau minum
·         Menuju ke sentra dengan tertib


  1. Pijakan sebelum main
·         Setelah anak selesai bermain , lalu mengajak anak untuk :
·         Menyapa anak
·         Berdo’a sebelum belajar
·         Mengabsen kehadiran anak
·         Bercerita tentang sebuah cerita
·         Bermain menirukan suara binatang dan menyusun nama binatang

·         Membangun gagasan anak
·         Mendiskusikan aturan main
·         Menjelaskan tata cara bermain, yang antara lain adalah:
-Anak memberi lem pada gambar kelinci
-          Anak menabur kapas pada gambar kelinci
-          Lalu anak menempelkan kancing berwarna merah pada gambar kelinci srbagai matanya
-          Membereskan alat dan bahan main yang sudah digunakan
·         Menjelaskan transisi main
·         Mempersilahkan anak-anak bermain.

4.      Pijakan saat main

·         Memberikan waktu yang cukup pada anak saat bermain
·         Mengembangkan dan memperluas bahasa anak
·         Membangun gagasan anak
·         Mengembangkan interaksi sosial pada anak
·         Membantu anak yang kesulitan pada saat bermain
·         Memberi pujian dan mencatat perkembangan anak
·         Memberi motivasi dan mengamati anak
·         Memberitahukan anak untuk bersiap-siap menyelesaikan tugasnya
·         Mengumpulkan hasil karya anak

5.      Pijakan setelah bermain

·         Membereskan bahan dan alat bermain
·         Anak diajak kembali duduk melingkar
·         Menceritakan kembali kegiatan anak
·         Melakukan tanya jawab dengan anak
·         Diakhiri dengan berdo’a sesudah belajar dan ucapan salam
·         Anak dipersilahkan untuk pulang

  1. Alat/Bahan Yang Diperlukan
1.      Kertas warna-warni
2.      Gambar kelimci, kapas
3.      Kancing warna-warni

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar